Jumat, 25 Mei 2012

makalah perkebunan karet

Makalah Pengelolaan Tanaman Perkebunan

BOTANI, SYARAT TUMBUH, KESESUAIAN LAHAN TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis)

Oleh
Kelompok IV

Adhe Lilha Elnysha               0905101050030
Mizan Maulana                      0905101050029
Syahrijal                                 0905101060011










PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2012
I.                  PENDAHULUAN
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia.   Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada  tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun 2004.  Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas.
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan.  Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.  Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta.  Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai angka sekitar 2.2 juta  ton.  Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani dan lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui  perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa  memberikan modal bagi petani atau perkebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.




II.                BOTANI, SYARAT TUMBUH, KESESUAIAN LAHAN TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis)

A.    Botani Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)
1.      Klasifikasi
Menurut Setiawan dan Andoko (2005), klasifikasi tanaman karet (Hevea brasiliensis) adalah sebagai berikut :
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Ordo                : Euphorbiales
Family             : Euphorbiaceae
Genus              : Hevea
Spesies            : Brasiliensis
Nama ilmiah    : Hevea brasiliensis Muell Arg.
Genus Hevea terdiri dari berbagai species, yang keseluruhannya berasal dari lembah sungei Amazon. Beberapa diantara species tersebut mempunyai morfologi dan sitologi yang berbeda. Beberapa species Hevea yang telah dikenal adalah sebagai berikut :
1. H. brasiliensis
2. H. benthamiana
3. H. camargoana
4. H. spruceana
5. H. guianensis
6. H. collina
7. H. pauciflora
8. H. rigidifolia
9. H. nitida
10. H. confusa
11. H. microphylla
Dari sejumlah species Hevea tersebut, hanya H. brasiliensis yang mempunyai nilai ekonomi tanaman komersial, karena species ini banyak menghasilkan lateks dan kualitasnya lateksnya cukup baik. Species-species lain yang hanya digunakan sebagai sumber plasma nutfah dalam program pemuliaan, antara lain :
1. H. benthamiana digunakan sebagai sumber genetik untuk ketahanan terhadap penyakit rapuh daun Mycrocyclus ulei
2. H. spruceana dan H. pauciflora untuk mendapat kejaguran tanaman
2.   Morfologi
a)   Akar
-     Biji karet berkeping dua dengan sistem perakaran tunggang.
-     Akar yang paling aktif menyerap air dan unsur hara adalah bulu akar yang berada pada kedalaman 0-60 cm dan jarak 1-2,5 m dari pangkal pohon.
b)   Batang
-     Berbatang lurus dan bercabang. Lilit batang tanaman muda berkisar 6-45 cm; tanaman remaja sampai dengan tua (TM) lebih besar dari 45 cm.
-     Kecepatan tumbuh rata-rata 7-9 cm per tahun.
c)   Daun
Daun karet berselang-seling, tangkai daunnya panjang dan terdiri dari 3 anak daun yang licin berkilat. Petiola tipis, hijau, berpanjang 3,5-30 cm. Helaian
anak daun bertangkai pendek dan berbentuk lonjong-oblong atau oblong-obovate,
pangkal sempit dan tegang, ujung runcing, sisi atas daun hijau tua dan sisi bawah
agak cerah, panjangnya 5-35 cm dan lebar 2,5-12,5 cm (Sianturi, 2001).
Tahap perkembangan daun :
-     Tunas baru
-     ukuran sempurna
-     Daun muda ukuran sempurna
-     Daun tua (warna hijau mengkilap)
-     Jumlah helai daun per tangkai tiga buah.
-     Daun mengalami gugur sekali setiap tahun.
d)   Bunga
-     Bunga tumbuh setelah tanaman mengalami gugur daun.
-     Bunga terdiri atas putik dan tepung sari (bunga berumah satu).
e)   Buah
o   Buah terbentuk delapan bulan setelah gugur daun
o   Buah dianggap matang dan siap menjadi benih ditandai dengan jatuh secara alami
o   Biji dianggap baik sebagai benih bila :
-  Diperoleh dari kebun yang telah teruji kemurnian klonnya
-  Tanaman induk minimal berumur sepuluh tahun
-  Apabila dipecah maka daging biji tampak berwarna putih atau putih kekuning-kuningan segar (tidak mengkerut/layu).
-  Apabila diuji keletingan dengan cara dijatuhkan pada ketinggian 70-100 cm dari permukaan lantai, maka biji karet akan melenting kearah luar.
-  Biji memantul dengan ketinggian lebih dari 50% terhadap jarak penjatuhan.
-  Warna kulit luar mengkilap dengan mosaik utuh atau sempurna.
-  Bila dikecambahkan: sudah tumbuh pada kondisi stadia bintang menjelang stadia pancing pada hari ke-21 (untuk biji dari kebun sendiri), dan pada hari ke-31 (untuk biji kiriman dari tempat lain).
Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 – 25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke arah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Dewi, 2008).
Sesuai dengan habitat aslinya di Amerika Selatan, terutama di Brazil yang beriklim tropis, maka karet juga cocok ditanam di daerah-daerah tropis lainnya. Daerah tropis yang baik ditanami karet mencakup luasan antara 15o Lintang Utara sampai 10o  Lintang Selatan. Walaupun daerah itu panas, sebaiknya tetap menyimpan kelembapan yang cukup. Suhu harian yang diinginkan tanaman karet rata – rata 25 – 30o C.  Apabila dalam jangka waktu panjang suhu harian rata-rata kurang dari 20o C, maka tanaman karet tidak cocok di tanam di daerah tersebut. Pada daerah yang suhunya terlalu tinggi, pertumbuhan tanaman karet tidak optimal (Setiawan, 2000).
Tanaman karet dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 1-600 m dari permukaan laut. Curah hujan yang cukup tinggi antara 2000-2500 mm setahun. Akan lebih baik lagi apabila curah hujan itu merata sepanjang tahun (Nazarrudin dan Paimin, 2006).
3.      Syarat Tumbuh
Pada dasarnya tanaman karet memerlukan persyaratan terhadap kondisi iklim untuk menunjang pertumbuhan dan keadaan tanah sebagai media tumbuhnya.  
a.       Iklim
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150 LS dan 150 LU.  Diluar itu pertumbuhan tanaman karet agak terhambat sehingga memulai produksinya juga terlambat.  


b.      Curah hujan
Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun.    Namun demikian,  jika sering hujan pada pagi hari, produksi akan berkurang.
c.       Tinggi tempat
Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran  rendah dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut.  Ketinggian > 600  m dari permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet.  Suhu optimal diperlukan berkisar antara 250C sampai 350C.
d.      Angin
Kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik untuk penanaman karet.
e.       Tanah
Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih  mempersyaratkan sifat fisik tanah  dibandingkan dengan sifat kimianya. 
Hal ini disebabkan perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat   5 tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya. Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut < 2 m. 
Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur, tekstur, sulum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainasenya, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik  karena kandungan haranya rendah.  Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya terutama drainase dan aerasenya kurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH 3, 0 - pH 8,0 tetapi tidak sesuai pada pH  < 3,0 dan > pH 8,0.  Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada   umumnya antara lain :
-     Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan  lapisan cadas,
-     Aerase dan drainase cukup,
-     Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air,
-     Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir,
-     Tanah bergambut tidak lebih dari 20 cm,
-     Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara  mikro,
-     Reaksi tanah dengan pH 4,5 - pH 6,5,
-     Kemiringan tanah < 16% dan
-     Permukaan air tanah < 100 cm.


4.      Kesesuaian Lahan
Tanaman karet akan tumbuh baik pada kondisi lahan sebagai berikut : tidak ada lapisan hardpan (kalaupun ada lebih dari 2 m dari permukaan tanah), kandungan liat < 20% , pH tanah 5,0 – 6,5, kedalaman efektif > 100 cm dan kemiringan lahan 0 – 8 persen. Secara lebih rinci persyaratan untuk suatu lahan perkebunan karet.











III.           KESIMPULAN
Berdasarkan isi makalah di atas dapat disimpulkan bahwa :
1.      H. brasiliensis yang mempunyai nilai ekonomi tanaman komersial, karena species ini banyak menghasilkan lateks dan kualitasnya lateksnya cukup baik.
2.      Batang tanaman karet mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks.
3.      Tanaman karet sangat cocok untuk dibudidayakan di perkebunan wilayah Indonesia yang bercurah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun.   













IV.           DAFTAR PUSTAKA
Dewi, R. I. 2008.  Panduan Lengkap Karet. Universitas Padjadjaran. Bandung. 
Nazarrudin dan Paimi. 2006. Karet, Strategi Pemasaran dan Pengolahan. Penebar  Swadaya. Jakarta.

Setiawan, 2000. Usaha Pembudidayaan Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.
Setiawan dan Andoko. 2005. Petunjuk Lengkap Budi Daya Karet. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Sianturi, H. S. D. 2001. Budidaya Tanaman Karet. Universitas Sumaera Utara Press, Meda.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar